12 Pola Candlestick yang Sering Digunakan dalam Analisis Teknikal

· 5 min read

Pendahuluan

Chart candlestick adalah salah satu alat teknikal yang paling banyak dipakai untuk menganalisis pola harga. Selama berabad-abad, trader dan investor menggunakannya untuk menemukan pola yang dapat mengindikasikan arah harga. Artikel ini membahas beberapa pola candlestick paling populer lewat contoh bergambar.

Jika Anda siap mulai membaca chart candlestick, simak Panduan Pemula untuk Chart Candlestick.

Cara menggunakan pola candlestick

Trader dapat memakai banyak sekali pola candlestick untuk mengidentifikasi area yang menarik di chart. Pola-pola ini cocok untuk day trading, swing trading, bahkan position trading jangka panjang. Sementara sebagian pola candlestick bisa menunjukkan keseimbangan antara pembeli dan penjual, pola lainnya bisa menandakan pembalikan arah (reversal), kelanjutan tren (continuation), atau keraguan pasar.

Penting dicatat bahwa pola candlestick itu sendiri belum tentu merupakan sinyal beli atau jual, melainkan cara mengamati struktur pasar dan indikator potensial akan peluang yang mungkin datang. Karena itu, selalu berguna melihat pola dalam konteksnya: baik konteks pola teknikal di chart, maupun lingkungan pasar yang lebih luas serta faktor-faktor lain.

Karena itu pula, seperti alat analisis pasar lainnya, pola candlestick paling berguna bila dikombinasikan dengan metode lain seperti metode Wyckoff, teori Elliott Wave, dan teori Dow. Ia juga bisa dipakai bersama perangkat analisis teknikal (TA) seperti trend line, moving average, relative strength index (RSI), Stochastic RSI, Bollinger Bands, awan Ichimoku, parabolic SAR, atau MACD.

Pola pembalikan bullish

Hammer

Candlestick dengan sumbu (wick) bawah yang panjang di dasar downtrend, di mana sumbu bawahnya minimal dua kali ukuran badannya.

Hammer menunjukkan bahwa meski tekanan jual tinggi, para bull kembali mendorong harga naik mendekati harga pembukaan. Hammer bisa merah atau hijau, tapi hammer hijau bisa menandakan reaksi bullish yang lebih kuat.

Inverted hammer

Disebut juga hammer terbalik; mirip hammer, tapi sumbu panjangnya berada di atas badan, bukan di bawahnya. Seperti hammer, sumbu atasnya harus minimal dua kali ukuran badan.

Inverted hammer muncul di dasar downtrend dan bisa menandakan potensi pembalikan ke atas. Sumbu atasnya menunjukkan harga sempat menghentikan laju penurunannya, meski penjual akhirnya berhasil menekannya kembali mendekati pembukaan. Ini bisa berarti pembeli akan segera menguasai pasar.

Three white soldiers

Pola Three White Soldiers terdiri dari tiga candle hijau berturut-turut yang dibuka di dalam badan candle sebelumnya dan ditutup di level yang melampaui high candle sebelumnya.

Idealnya, candle-candle ini tidak memiliki sumbu bawah yang panjang, yang menunjukkan tekanan beli terus mendorong harga naik. Anda bisa menilai peluang kelanjutan atau kemungkinan pembalikan dari ukuran candle dan panjang sumbunya.

Bullish harami

Bullish harami dicirikan oleh candle merah panjang yang diikuti candle hijau lebih kecil yang sepenuhnya berada di dalam badan candle sebelumnya.

Bullish harami bisa berlangsung dua hari atau lebih. Pola ini menandakan momentum jual sedang melambat dan mungkin mendekati akhir.

Pola pembalikan bearish

Hanging man

Hanging man adalah padanan bearish dari hammer; biasanya terbentuk di akhir uptrend, dengan badan kecil dan sumbu bawah yang panjang.

Sumbu bawahnya menunjukkan aksi jual besar, tapi para bull berhasil merebut kendali kembali dan menaikkan harga. Dengan itu, aksi jual setelah uptrend panjang bisa menjadi peringatan bahwa para bull mungkin akan segera kehilangan kendali atas pasar.

Shooting star

Shooting star terdiri dari candlestick dengan sumbu atas yang panjang, nyaris tanpa sumbu bawah, dan badan kecil, idealnya berada di dekat bagian bawah. Bentuknya menyerupai inverted hammer, tapi terbentuk di ujung uptrend.

Ini menunjukkan pasar sempat mencapai puncak, tapi kemudian penjual mengambil kendali dan menekan harga turun. Sebagian trader lebih memilih menunggu candle berikutnya terbuka untuk mengonfirmasi polanya.

Three black crows

Three black crows tersusun dari tiga candle merah berturut-turut yang dibuka di dalam badan candle sebelumnya dan ditutup di bawah low-nya.

Ini padanan bearish dari three white soldiers. Idealnya, candle-candle ini tidak memiliki sumbu atas yang panjang, menandakan harga terus turun karena tekanan jual yang berkelanjutan. Anda bisa menilai kemungkinan kelanjutannya dari ukuran candle dan panjang sumbunya.

Bearish harami

Bearish harami adalah candle hijau panjang yang diikuti candle merah kecil yang badannya sepenuhnya berada di dalam badan candle sebelumnya.

Bearish harami bisa berlangsung dua hari atau lebih, muncul di akhir uptrend, dan bisa menandakan tekanan beli sedang menyusut.

Dark cloud cover

Pola dark cloud cover terdiri dari candle merah yang harga pembukaannya lebih tinggi dari penutupan candle hijau sebelumnya, lalu ditutup di bawah titik tengah candle tersebut.

Pola ini biasanya disertai volume besar, yang menandakan momentum mungkin sedang berbalik dari naik ke turun. Trader bisa menunggu candle merah ketiga untuk mengonfirmasi polanya.

Pola kelanjutan (continuation)

Rising three methods

Pola ini muncul dalam uptrend, ketika tiga candle merah kecil berturut-turut dengan badan solid diikuti oleh kelanjutan tren naik. Idealnya, candle merahnya tidak menembus rentang candle sebelumnya.

Kelanjutan dikonfirmasi oleh candle hijau besar, menandakan para bull kembali menguasai arah tren.

Falling three methods

Kebalikan dari rising three methods; menandakan kelanjutan tren turun.

Doji

Doji terbentuk ketika harga pembukaan dan penutupan sama (atau sangat berdekatan). Harga bisa berfluktuasi di sekitar harga pembukaan, tapi akhirnya ditutup di atau dekat harga pembukaan. Karena itu, Doji bisa menandakan keraguan antara kekuatan beli dan jual. Meski demikian, interpretasi Doji sangat bergantung pada konteks.

Berdasarkan posisi garis open/close-nya, Doji bisa digambarkan sebagai berikut:

Gravestone Doji – Candle pembalikan bearish dengan sumbu atas panjang dan harga open/close mendekati low.

Long-legged Doji – Candle bimbang dengan sumbu atas dan bawah, dengan open/close di dekat tengah.

Dragonfly Doji – Candle bullish atau bearish (tergantung konteks) dengan sumbu bawah yang sangat panjang dan open/close mendekati high.

Definisi asli Doji menyatakan open dan close harus sama, tapi bagaimana kalau open dan close berbeda namun sangat berdekatan? Itu disebut spinning top. Pasar crypto bisa sangat volatil, dan Doji yang presisi jarang terjadi — itulah sebabnya spinning top sering dipakai sebagai sinonim Doji.

Pola candlestick berbasis price gap

Price gap dipakai di banyak pola candlestick. Ketika harga pembukaan sebuah aset finansial lebih tinggi atau lebih rendah dari harga penutupan sebelumnya, akan terjadi celah harga yang menciptakan gap di antara dua candle — begitulah price gap jenis ini terbentuk. Meski begitu, price gap juga bisa muncul di pasar yang tidak likuid. Namun, karena umumnya berasal dari likuiditas rendah dan spread yang lebar, gap semacam ini mungkin tidak cocok dijadikan model yang efektif.

Penutup

Pola candlestick penting dipahami setiap trader, setidaknya di level dasar, bahkan jika mereka tidak memasukkannya langsung ke dalam strategi trading.

Meski sangat berguna dalam analisis pasar, penting diingat bahwa pola-pola ini tidak berlandaskan prinsip atau hukum ilmiah, melainkan cara menyampaikan dan memvisualisasikan kekuatan beli dan jual yang pada akhirnya menggerakkan pasar.

pola candlestick analisis teknikal belajar candlestick pola candlestick reversal trading crypto