Apa Itu DeFi 2.0 dan Kenapa Ini Penting?

· 7 min read

DeFi 2.0 adalah kumpulan inisiatif yang membenahi kekurangan DeFi 1.0. Tujuan DeFi adalah membawa layanan keuangan ke tangan masyarakat luas, tetapi sepanjang jalan ia bergulat dengan masalah skalabilitas, keamanan, sentralisasi, likuiditas, dan keterbukaan informasi. DeFi 2.0 bertujuan menjawab persoalan-persoalan tersebut sekaligus memperbaiki pengalaman pengguna. Jika DeFi 2.0 berhasil, ia akan membantu mengurangi risiko dan kerumitan yang selama ini membuat pengguna kripto enggan memakainya.

Beberapa use case DeFi 2.0 bahkan sudah berjalan sekarang. Di sejumlah platform, Anda bisa memakai LP token dan LP token hasil yield farming sebagai jaminan untuk sebuah pinjaman. Pendekatan ini memungkinkan Anda menggali nilai lebih dari token tersebut tanpa kehilangan manfaat dari pool.

Anda juga bisa mendapatkan pinjaman yang membayar dirinya sendiri, di mana jaminan Anda justru menghasilkan uang bagi pemberi pinjaman. Bunga yang terkumpul itulah yang melunasi utang, sehingga peminjam tidak perlu membayar bunga sama sekali. Asuransi terhadap smart contract yang diretas dan terhadap impermanent loss (IL) adalah dua use case lain yang sudah tersedia.

Tata kelola DAO dan desentralisasi menjadi tren yang sedang tumbuh di DeFi 2.0. Di sisi lain, pemerintah dan regulator bisa saja pada akhirnya ikut memengaruhi bagaimana banyak proyek dijalankan. Ingat hal ini sebelum berinvestasi, sebab layanan yang ditawarkan mungkin harus berubah.

Pendahuluan

Sudah lebih dari dua tahun sejak DeFi (Decentralized Finance) lahir pada 2020. Sejak itu kita menyaksikan proyek-proyek DeFi yang sangat sukses seperti UniSwap, sebuah bentuk desentralisasi perdagangan dan keuangan, sekaligus cara-cara baru untuk mendapatkan bunga di sektor cryptocurrency. Namun, seperti yang kita lihat pada Bitcoin (BTC), masih ada banyak hal yang perlu dibereskan di industri yang masih semuda ini. Alhasil, istilah DeFi 2.0 mulai populer untuk menyebut generasi baru aplikasi terdesentralisasi (DApp) DeFi.

Per Desember 2021, kita masih menunggu gelombang penuh DeFi 2.0, tetapi awalnya sudah bisa kita saksikan. Simak artikel ini untuk tahu apa saja yang perlu diperhatikan dan kenapa DeFi 2.0 dibutuhkan untuk membereskan masalah-masalah yang belum tuntas di ekosistem DeFi.

Apa itu DeFi 2.0?

DeFi 2.0 adalah gerakan yang berusaha memperbarui dan memperbaiki persoalan yang membelit gelombang DeFi pertama. DeFi memang mengubah keadaan dengan memberi layanan keuangan terdesentralisasi kepada siapa pun yang punya dompet kripto, tetapi ia masih menyimpan kelemahan. Tren serupa sudah terjadi di dunia cryptocurrency, ketika blockchain generasi kedua seperti Ethereum (ETH) melampaui Bitcoin. DeFi 2.0 juga harus menanggapi aturan kepatuhan baru yang ingin diterapkan berbagai negara, seperti KYC dan AML.

Mari kita lihat satu contoh. Liquidity pool (LP) sangat populer di DeFi karena memungkinkan penyedia likuiditas mendapatkan fee dari staking pasangan token. Namun, jika rasio harga token berubah, penyedia likuiditas berisiko merugi (impermanent loss). Dengan biaya kecil, sebuah protokol DeFi 2.0 bisa memberi asuransi terhadap risiko itu. Strategi ini menambah motivasi orang untuk masuk ke LP sekaligus menguntungkan pengguna, para pemangku kepentingan, dan industri DeFi secara keseluruhan.

Apa saja keterbatasan DeFi?

Sebelum menyelami lebih jauh use case DeFi 2.0, mari kita lihat dulu persoalan yang ingin dibereskannya. Banyak dari kekhawatiran yang disebut di sini mirip dengan yang dihadapi teknologi blockchain dan cryptocurrency pada umumnya:

  1. Skalabilitas: Protokol DeFi di blockchain dengan lalu lintas padat dan biaya gas tinggi kerap memberi layanan yang lambat dan mahal. Tugas sesederhana apa pun jadi tidak efisien kalau memakan waktu terlalu lama.

  2. Oracle dan informasi pihak ketiga: Produk keuangan yang bergantung pada data eksternal membutuhkan oracle (sumber data pihak ketiga) berkualitas lebih tinggi.

  3. Sentralisasi: Di DeFi, desentralisasi yang lebih besar seharusnya menjadi tujuan. Namun banyak proyek masih belum menerapkan prinsip DAO.

  4. Keamanan: Sebagian besar pengguna tidak mengelola atau memahami bahaya yang menyertai DeFi. Mereka mempertaruhkan jutaan dolar pada smart contract yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Audit keamanan memang ada, tetapi nilainya berkurang begitu ada perubahan yang diterapkan.

  5. Likuiditas: Pasar dan liquidity pool tersebar di banyak blockchain dan platform, sehingga likuiditas terpecah-pecah. Dengan menyediakan likuiditas, dana dan seluruh nilainya juga ikut terkunci. Dalam banyak kasus, token yang ditanam di liquidity pool tidak bisa dipakai di tempat lain, sehingga muncul inefisiensi modal.

Kenapa DeFi 2.0 penting?

Bahkan bagi HODLer dan pengguna kripto berpengalaman sekalipun, DeFi bisa terasa menakutkan dan sulit dipahami. Namun tujuannya adalah menghapus hambatan masuk dan membuka peluang penghasilan baru bagi pemegang cryptocurrency. Pengguna yang tidak bisa mendapatkan pinjaman dari bank biasa bisa jadi mampu mendapatkannya lewat DeFi.

DeFi 2.0 penting karena punya potensi mendemokratisasi layanan perbankan sekaligus menekan risiko. DeFi 2.0 juga berusaha menjawab persoalan yang disorot di bagian sebelumnya, sehingga pengalaman pengguna jadi lebih baik. Kalau kita bisa mewujudkan itu sambil memberi insentif yang lebih besar, semua pihak akan diuntungkan.

Use case DeFi 2.0

Kita tidak perlu menunggu untuk melihat use case DeFi 2.0. Sudah ada berbagai inisiatif di banyak jaringan yang menawarkan layanan DeFi baru, termasuk Ethereum, Binance Smart Chain, Solana, dan blockchain lain yang mendukung smart contract. Di bagian ini kita akan melihat beberapa yang paling umum:

Membuka nilai dana yang di-stake

Kalau Anda pernah menaruh pasangan token di sebuah liquidity pool, Anda pasti menerima LP token sebagai gantinya. Di DeFi 1.0, Anda bisa melipatgandakan penghasilan dengan men-stake LP token itu ke sebuah yield farm. Sebelum DeFi 2.0, di situlah rantai penggalian nilai berakhir. Jutaan dolar mengendap di dalam vault untuk menyediakan likuiditas, padahal masih ada ruang untuk menaikkan efisiensi modal lebih jauh lagi.

DeFi 2.0 melangkah selangkah lebih maju dengan memakai LP token hasil yield farm tersebut sebagai jaminan. Jaminan ini bisa dipakai untuk pinjaman kripto dari protokol lending atau untuk mencetak token lewat prosedur ala MakerDAO (DAI). Tekniknya berbeda-beda di tiap proyek, tetapi tujuannya sama: nilai LP token Anda seharusnya bisa dibuka untuk peluang-peluang baru sekaligus menaikkan APY.

Asuransi smart contract

Kecuali Anda developer berpengalaman, melakukan due diligence mendalam terhadap sebuah smart contract bisa jadi sulit. Tanpa informasi itu, Anda hanya bisa menilai sebuah proyek secara sebagian. Ketika berinvestasi di inisiatif DeFi, hal ini menghadirkan risiko yang tidak kecil. DeFi 2.0 memungkinkan Anda mendapatkan asuransi DeFi untuk smart contract tertentu.

Bayangkan Anda memakai sebuah yield optimizer dan LP token Anda ter-stake di dalam smart contract-nya. Anda bisa kehilangan seluruh deposit kalau smart contract itu dibobol. Dengan membayar sejumlah biaya, sebuah proyek asuransi bisa memberi Anda jaminan atas deposit di yield farm tersebut. Perlu dicatat, jaminan ini hanya berlaku untuk satu smart contract saja. Kalau kontrak liquidity pool-nya yang dibobol, biasanya Anda tidak akan mendapat pembayaran. Namun kalau kontrak yield farm yang bermasalah dan kontrak itu ditanggung asuransi, hampir pasti Anda akan menerima ganti rugi.

Asuransi impermanent loss

Kalau Anda menanam dana di liquidity pool dan mulai melakukan liquidity mining, setiap perubahan rasio harga dua token yang Anda kunci bisa berujung pada kerugian. Inilah yang disebut impermanent loss, dan protokol-protokol DeFi 2.0 yang baru sedang mencari cara-cara segar untuk menekan risiko tersebut.

Pertimbangkan menambahkan satu token saja ke LP satu sisi jika sebuah pasangan token tidak diwajibkan. Protokolnya kemudian menambahkan token asli miliknya sebagai sisi yang lain. Setelah itu, protokol tersebut dan Anda sama-sama menerima fee yang dihasilkan dari swap pada pasangan token bersangkutan.

Seiring waktu, protokol akan memanfaatkan fee tersebut untuk membangun dana asuransi yang melindungi deposit Anda dari dampak impermanent loss. Kalau fee-nya tidak cukup untuk menutup kerugian, protokol bisa mencetak token tambahan sebagai kompensasi. Kalau tokennya terlalu banyak, kelebihannya bisa disimpan untuk dipakai nanti atau dibakar agar suplai berkurang.

Pinjaman yang membayar dirinya sendiri

Mengambil pinjaman biasanya membawa risiko likuidasi sekaligus kewajiban membayar bunga. Di DeFi 2.0, hal itu tidak harus terjadi. Bayangkan Anda mengambil pinjaman $100 dari sebuah pemberi pinjaman kripto. Ia meminjamkan $100 dalam bentuk cryptocurrency, tetapi meminta jaminan senilai $50. Setelah Anda menyetorkan jaminan itu, si pemberi pinjaman akan memakainya untuk mengumpulkan bunga demi melunasi pinjaman Anda. Deposit Anda dikembalikan setelah ia berhasil menghasilkan $100 dari kripto Anda ditambah sedikit biaya tambahan. Di sini juga tidak ada bahaya likuidasi. Kalau token jaminan Anda turun nilainya, pelunasan pinjaman hanya akan memakan waktu lebih lama.

Siapa yang memegang kendali atas DeFi 2.0?

Dengan semua fitur dan use case ini, wajar kalau kita bertanya siapa sebenarnya yang memegang kendali. Sejak awal, teknologi blockchain selalu diiringi gerakan desentralisasi. DeFi pun tak terkecuali. MakerDAO (DAI), salah satu inisiatif awal di era DeFi 1.0, menjadi preseden bagi gerakan tersebut. Kini makin lazim melihat proyek memberi ruang bicara kepada komunitasnya.

Banyak token platform juga berfungsi sebagai governance token, yang memberi pemegangnya hak suara. Masuk akal jika kita mengharapkan desentralisasi yang lebih besar di sektor ini bersama DeFi 2.0. Namun, seiring kepatuhan dan regulasi mulai menyusul DeFi, peran token-token itu justru makin krusial.

Apa saja risiko DeFi 2.0, dan bagaimana cara menghindarinya?

Banyak bahaya yang menyertai DeFi 2.0 sebenarnya sama dengan yang ada di DeFi 1.0. Berikut beberapa yang paling umum, sekaligus apa yang bisa Anda lakukan untuk melindungi diri.

  1. Smart contract yang Anda gunakan bisa saja menyimpan backdoor, cacat, atau diretas. Sebuah audit juga tidak pernah menjadi jaminan bahwa proyeknya aman. Lakukan riset sebanyak mungkin terhadap idenya dan ingat bahwa investasi selalu mengandung risiko.

  2. Regulasi bisa memengaruhi investasi Anda. Pemerintah dan otoritas di seluruh dunia menaruh perhatian pada ekosistem DeFi. Meski regulasi dan aturan bisa menaikkan keamanan serta stabilitas kripto, sejumlah proyek mungkin harus menyesuaikan layanannya ketika pembatasan baru diberlakukan.

  3. Impermanent loss. Bahkan dengan asuransi IL sekalipun, siapa pun yang tertarik pada liquidity mining tetap menghadapi risiko besar. Risikonya tidak akan pernah bisa dihilangkan sepenuhnya.

  4. Anda bisa kesulitan mengakses dana sendiri. Kalau Anda melakukan staking lewat antarmuka situs sebuah proyek DeFi, sebaiknya cari juga smart contract-nya di block explorer. Kalau situsnya down, Anda tidak akan bisa menarik dana. Namun, untuk berkomunikasi langsung dengan smart contract, Anda butuh sedikit pengetahuan teknis.

Penutup

Meski sudah banyak upaya yang berhasil di arena DeFi, kita belum melihat potensi penuh DeFi 2.0. Sebagian besar pengguna masih menganggap topik ini sulit, dan tidak seorang pun sebaiknya memakai produk keuangan yang tidak sepenuhnya ia pahami. Masih ada pekerjaan rumah untuk menyederhanakan prosesnya, terutama bagi pengguna baru. Kita sudah melihat keberhasilan pendekatan-pendekatan inovatif untuk menekan risiko sambil mengejar APY, tetapi kita harus menunggu untuk tahu apakah DeFi 2.0 benar-benar menepati janjinya.

apa itu defi 2.0 defi 2.0 impermanent loss liquidity pool crypto asuransi smart contract