Energi Terbarukan dalam Penambangan Bitcoin

· 2 min read

Karena Bitcoin adalah penyimpan nilai terdesentralisasi dengan pasokan terbatas, penggunaannya oleh individu maupun institusi meningkat pesat dari hari ke hari. Seiring itu, aktivitas Bitcoin mining juga ikut bertambah. Selain penambang perorangan, keberadaan fasilitas khusus untuk memproduksi Bitcoin memunculkan banyak perdebatan soal konsumsi energi. Berbagai pihak punya tafsiran yang berbeda-beda, dan sebagian besar tidak netral, tentang energi yang dihabiskan untuk menambang Bitcoin. Lewat artikel ini, Anda bisa menemukan jawaban atas pertanyaan seputar konsumsi energi dalam Bitcoin mining dan pemakaian energi bersih di dalamnya.

Apa Itu Bitcoin Mining?

Produksi Bitcoin berlangsung lewat sebuah proses yang disebut mining. Dalam Bitcoin mining, perangkat dengan software dan hardware khusus memvalidasi transaksi transfer Bitcoin dengan memecahkan persoalan yang rumit, lalu mendapat imbalan berupa Bitcoin yang baru diproduksi. Orang-orang yang menjalankan proses ini disebut miner atau penambang.

Konsumsi Energi dalam Bitcoin Mining

Miner bisa berupa individu, bisa juga perusahaan yang memang berspesialisasi di bidang ini. Baik satu komputer yang menambang Bitcoin maupun fasilitas besar berisi banyak sistem sama-sama membutuhkan sejumlah energi.

Karena miner mendapat imbalan Bitcoin untuk setiap blok baru yang mereka tambahkan ke blockchain, muncul persaingan di antara mereka. Semua berlomba menyempurnakan software dan hardware agar menjadi yang pertama memproduksi Bitcoin. Pembangunan sistem yang lebih canggih, cepat, dan bertenaga otomatis mendorong naiknya konsumsi energi. Jejak karbon yang ditinggalkan energi tersebut ke lingkungan pun menjadi topik yang belakangan sering diperdebatkan.

Pemakaian Energi Terbarukan dalam Bitcoin Mining

Perdebatan soal konsumsi energi ini mendorong para miner mencari jalur produksi alternatif dan beralih ke sumber energi yang lebih berkelanjutan. Sebagian perusahaan mining memasang sistemnya di kawasan Lingkar Arktik, sebagian lagi di lereng gunung berapi aktif maupun pasif, dan ada pula yang membangunnya di dataran luas agar bisa langsung memanfaatkan energi surya. Untuk memproduksi listrik yang dipakai menambang Bitcoin, sumber seperti tenaga air, gas alam, dan tenaga surya kini banyak digunakan. Fasilitas Bitcoin yang dibangun di kaki gunung berapi berupaya memanfaatkan energi panas bumi sebagai sumber tenaganya.

Seperti di bidang dan sektor lain, langkah ramah lingkungan mulai diambil dengan cepat dalam produksi Bitcoin. Berkat berbagai langkah itu, lebih dari 50% energi yang dipakai dalam produksi Bitcoin hari ini berasal dari sumber energi terbarukan (lihat: Bitcoin Letter to the Environmental Protection Agency), dan angkanya terus meningkat. Selain itu, energi yang digunakan dalam produksi Bitcoin tercatat lebih rendah dibandingkan energi yang dihabiskan untuk penambangan emas maupun operasional perbankan.

energi terbarukan bitcoin konsumsi energi bitcoin mining penambangan bitcoin energi bersih kripto jejak karbon bitcoin