Konsumsi Listrik Bitcoin Hampir Setara Satu Negara

· 2 min read

Konsumsi listrik Bitcoin dan cryptocurrency, yang juga dijuluki emas digital, belakangan menjadi salah satu topik yang paling banyak mengundang rasa penasaran. Karena banyaknya simpang siur informasi soal ini, kami mengulasnya secara ringkas.

Bitcoin dan cryptocurrency bisa dibilang telah menjadi salah satu nilai ekonomi terpopuler dalam beberapa tahun terakhir. Karena independen dari otoritas pusat dan sistem finansial tradisional, cryptocurrency memikat banyak orang dengan kecepatan, kemudahan penggunaan, dan biayanya. Bitcoin dan banyak cryptocurrency tidak diproduksi oleh bank sentral, melainkan oleh para miner. Mining adalah pekerjaan menghasilkan cryptocurrency baru dengan memecahkan soal matematika yang kompleks, mengonfirmasi blok, dan menambahkannya ke blockchain. Secara teori, siapa pun bisa bergabung ke jaringan ini dengan komputer pribadinya dan ikut dalam perlombaan mining. Namun saat ini, persaingan di arena mining tidak lagi realistis, karena lawan kita adalah perusahaan-perusahaan besar yang terdiri dari ribuan komputer super kuat dan perangkat mining khusus.

Salah satu konsekuensi terpenting dari kompetisi ini adalah konsumsi energi. Jutaan perangkat di seluruh dunia bekerja tanpa henti demi unggul dalam produksi Bitcoin. Selain energi listrik yang dikonsumsi perangkat-perangkat ini, energi ekstra juga terpakai untuk mendinginkannya.

Faktanya, salah satu hal yang membuat mining begitu sulit adalah kebutuhan energinya yang tinggi. Listrik yang terpakai ini sebagian besar habis untuk sistem pendingin. Karena alasan itu, perusahaan-perusahaan mining terkemuka dunia umumnya memilih mendirikan farm di wilayah beriklim dingin. Contohnya: Rusia, Tiongkok, Georgia, Amerika Serikat, Kanada, Swedia, bahkan wilayah kutub!

Universitas Cambridge di Inggris menerbitkan Bitcoin Electricity Consumption Index pada 2019. Menurut data tersebut, konsumsi listrik Bitcoin meningkat secara eksponensial dari tahun ke tahun dan kini hampir menyamai konsumsi listrik sebuah negara kecil.

Sangat sulit menyebut Bitcoin ramah lingkungan mengingat energi yang dikonsumsi dan emisi karbon yang dihasilkannya.

Anda dapat mengakses data konsumsi listrik Bitcoin yang dipublikasikan University of Cambridge Judge Business School secara online.

Untuk memenuhi kebutuhan energi yang besar dalam produksi Bitcoin, sebagian perusahaan mulai memanfaatkan berbagai sumber bahan bakar. Sambil berusaha meminimalkan jejak karbon, mereka juga memberi arahan dengan meningkatkan kesadaran publik.

Universitas Cambridge menyertakan di situsnya data yang membandingkan jumlah listrik yang dikonsumsi untuk Bitcoin dengan konsumsi listrik di dunia. Misalnya, perbandingan antara konsumsi perangkat elektronik yang selalu menyala meski tidak dibutuhkan di AS dengan Bitcoin, atau listrik yang dipakai ketel pembuat teh di Inggris dan Eropa dibandingkan dengan Bitcoin.

Ada banyak perdebatan seputar konsumsi listrik Bitcoin. Di sisi lain, melihat riset-riset yang ada dan langkah-langkah yang diambil, beralih ke alternatif yang lebih hijau dengan memanfaatkan energi terbarukan membuktikan bahwa kita juga bisa berkontribusi menjaga sumber daya alam yang terbatas.

konsumsi listrik bitcoin energi mining bitcoin mining bitcoin dampak lingkungan bitcoin energi terbarukan crypto