Apakah Anda Perlu Mencoba Bitcoin dan Cryptocurrency Lain?

· 5 min read

Ringkasan Singkat

Investor institusional mulai menaruh perhatian lebih besar pada cryptocurrency, menyusul penerimaan Bitcoin di arus utama dan kenaikan harganya dalam jangka panjang.

Para manajer aset berencana menambah posisi mereka, entah dengan membeli cryptocurrency secara langsung atau berinvestasi di perusahaan dan saham yang diuntungkan oleh crypto.

Di artikel ini kami membahas beberapa pertanyaan yang paling sering diajukan investor individu.

Apakah Anda perlu mencoba Bitcoin dan cryptocurrency lain?

Pemain terbesar di industri cryptocurrency sejak dulu adalah investor individu. Namun pertanyaan yang kini beredar di kalangan manajer aset justru terbalik: "siapa yang belum memasukkan crypto ke portofolionya?"

Ada beberapa faktor yang mengubah cara pandang ini. Dunia keuangan tradisional lama sekali tidak menaruh simpati pada cryptocurrency. Sepuluh tahun lalu, banyak hedge fund bahkan tidak melirik crypto sebagai opsi investasi yang layak. Dibandingkan saham dan obligasi yang sudah akrab dengan risiko terukur, Bitcoin terlihat rumit, masih baru, sangat volatil, dan belum dikenal di lingkaran keuangan.

Masalahnya bukan karena para pengelola dana antipati pada teknologi baru. Setelah gelembung dot-com pecah satu dekade sebelumnya, menjauhi teknologi baru yang belum teruji dan sangat volatil memang terasa masuk akal. Meski para pendukungnya gigih membela potensinya, saat itu crypto belum memenuhi standar keuangan tradisional dan adopsinya secara global belum benar-benar tumbuh.

Sekarang keadaannya sudah jauh berbeda. Pertama, adopsi meningkat drastis. Pemakaian cryptocurrency untuk pembayaran lintas negara sudah cukup meluas, dan makin banyak orang memandang Bitcoin sebagai penyimpan nilai sekaligus lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang fiat akibat pandemi. Merujuk data TheBlockCrypto, volume trading crypto bulanan naik dari $346 miliar pada Desember 2017 menjadi $2,3 triliun pada Mei 2021.

Selain itu, makin banyak institusi arus utama yang mengadopsi cryptocurrency dan menawarkan layanan crypto kepada nasabahnya. Perusahaan seperti Tesla menyimpan Bitcoin, sementara Microsoft, Overstock, dan Starbucks kini menerima cryptocurrency sebagai metode pembayaran. Penyedia layanan pembayaran seperti PayPal dan Square membiarkan penggunanya membeli cryptocurrency langsung dari platform mereka, dan otoritas pengawas perbankan Amerika Serikat (OCC) mengizinkan bank menyediakan layanan kustodi crypto untuk nasabah.

Pemberitaan tentang cryptocurrency di media arus utama juga makin banyak. Tokoh teknologi seperti Elon Musk dan Jack Dorsey terang-terangan menyatakan dukungan mereka pada Bitcoin, dan tak sedikit pengkritik crypto yang akhirnya berubah pikiran soal teknologi ini.

Masuk ke dunia cryptocurrency sekarang lebih mudah dari sebelumnya. Ekosistemnya sudah tumbuh pesat, tapi risikonya tetap serius. Volatilitas dan besarnya ruang untuk spekulasi adalah dua contohnya.

Meski sejarahnya masih pendek, cryptocurrency memperlihatkan pertumbuhan yang stabil dan positif, sehingga menjadi pilihan yang masuk akal bagi investor jangka panjang. Hanya soal waktu sebelum investor institusional serius mempertimbangkan ulang aset ini.

Apakah saya sebaiknya berinvestasi di crypto?

Sudah bukan rahasia bahwa banyak orang menghasilkan uang dari cryptocurrency. Nilai Bitcoin naik hampir 400% sejak awal tahun. Bitcoin yang melompat dari $9.000 pada pertengahan 2020 ke $32.000 pada Juli 2021 sempat mencetak rekor tertinggi di $64.000 pada April 2021. Investasi $1.000 pada rentang waktu itu akan menghasilkan profit sekitar $3.000.

Perkembangan terbaru menunjukkan manajer aset dan hedge fund menyadari peluang profit tersebut, terlihat dari derasnya aliran dana institusional yang masuk ke cryptocurrency sejak awal tahun.

Menurut studi terhadap para wealth manager yang dipesan perusahaan investasi Eropa Nickel Digital Asset Management, MicroStrategy, GrayScale, Tesla, dan Galaxy Digital Holdings sama-sama memperluas portofolio mereka dengan memasukkan cryptocurrency. Banyak investor institusional yang sedang menjajaki aset kripto pun berencana menambah posisinya.

Dalam survei internasional yang mencakup 100 institusi, 82% responden berencana meningkatkan kepemilikan crypto dan aset digital mereka sampai 2023. Alasan utama yang mereka sebutkan adalah berkembangnya regulasi di ranah cryptocurrency.

Temuan-temuan ini memperlihatkan perjalanan luar biasa yang ditempuh cryptocurrency sejak Satoshi Nakamoto menerbitkan whitepaper Bitcoin. Namun melihat kondisi saat ini, jelas bahwa cryptocurrency masih berada di awal perjalanannya.

Berapa besar sebaiknya saya berinvestasi?

Potensi keuntungan cryptocurrency memang besar, dan mencobanya bisa jadi langkah yang berguna. Meski banyak hal membaik dalam satu dekade terakhir, harga crypto tetap sangat volatil dan terbuka lebar untuk spekulasi.

Porsi ideal yang dialokasikan seorang investor ke cryptocurrency sangat bergantung pada toleransi risiko dan kemampuan finansialnya menanggung kerugian. Banyak manajer aset yang mengelola crypto untuk kliennya menyarankan alokasi 0,5–1% dari total portofolio. Mengingat market cap cryptocurrency hanya sekitar 0,5% dari total saham dan obligasi global, alokasi 2% sudah tergolong agresif.

Mereka yang yakin bisa mengelola risikonya sebaiknya mulai dari jumlah kecil dan membeli cryptocurrency dalam nominal tetap secara berkala, sampai kepemilikannya mencapai target alokasi. Pendekatan yang dikenal sebagai Dollar Cost Averaging ini memperkecil kemungkinan Anda membeli crypto tepat ketika pasar sedang di puncak.

Selain itu, memahami dunia crypto dan praktik terbaik di industrinya akan sangat membantu Anda mengelola risiko berinvestasi di kelas aset yang volatil ini.

Apa yang sebaiknya dibeli saat pertama kali masuk ke dunia cryptocurrency?

Salah satu cara tercepat dan termudah adalah membuat akun di exchange cryptocurrency besar seperti Binance, lalu membeli Bitcoin. Anda juga bisa menjadi nasabah platform trading yang menyediakan Bitcoin, misalnya eToro dan Robinhood.

Jalur lain adalah membeli saham dari institusi, trust, dan reksa dana yang berinvestasi di crypto. Grayscale Investments LLC memegang sekitar 650.000 BTC dan memungkinkan investor membeli serta menjual unit penyertaannya layaknya aset publik lain. Trust ini memungut biaya tahunan 2% dan bisa diperdagangkan pada harga premium atau diskon tergantung nilai Bitcoin yang dipegangnya.

Broker besar seperti Fidelity Investments tidak mengizinkan kliennya membeli cryptocurrency secara langsung, tetapi mereka sendiri melakukannya. Dengan begitu, nasabah tetap memperoleh aset yang mencerminkan nilai cryptocurrency sambil terhindar dari risiko memperdagangkan crypto secara langsung.

Perlukah saya melakukan diversifikasi investasi crypto?

Sebagian penggemar cryptocurrency memilih Bitcoin karena besarnya jaringan dan keunggulannya sebagai pelopor. Sebagian lain belajar dari kasus dot-com dan lebih suka mencari manfaat pada proyek-proyek crypto generasi berikutnya.

Karena penipuan masih marak di dunia crypto, langkah bijak adalah melakukan riset sendiri dan menjaga porsi investasi tetap kecil ketika berurusan dengan token yang belum banyak dikenal.

Menurut laporan PwC, 92% hedge fund crypto memperdagangkan Bitcoin, 67% menaruh minat pada Ethereum, sementara 34% dan 30% masing-masing memperdagangkan Litecoin dan Chainlink. Laporan itu juga menemukan bahwa sejumlah altcoin favorit hedge fund ternyata lebih populer dibanding yang tergambar dari total market cap-nya.

Agar diversifikasi crypto benar-benar memberi manfaat maksimal, penting untuk mengenali pemain-pemain utama di pasar, memahami keterkaitan Bitcoin dengan kondisi makroekonomi, serta melihat bagaimana sentimen Bitcoin memengaruhi aset kripto lain di sepanjang siklus harga.

Meski begitu, sejarah Bitcoin masih sangat pendek dan faktor yang memengaruhi harganya begitu banyak, sehingga sulit bagi investor mana pun untuk memprediksi pergerakan harga secara akurat.

Seberapa sering saya perlu melakukan rebalancing?

Pendekatan yang lazim disarankan untuk mengelola portofolio terdiversifikasi adalah membeli dan menahan aset, lalu melakukan rebalancing setahun sekali setelah evaluasi kinerja. Namun jika portofolio Anda memuat aset volatil seperti cryptocurrency, rebalancing yang lebih sering akan lebih bijak.

Idealnya, lakukan rebalancing secara konsisten sebulan sekali, atau ketika komposisi portofolio Anda menyimpang 1% dari target.

Kesimpulan

Sampai di titik ini, kami sebagai tim HafizeBot bekerja untuk Anda di sisi manajemen risiko dan analisis — mendukung Anda para pelaku pasar cryptocurrency agar bisa trading dengan lebih tenang, sekaligus memangkas waktu yang habis untuk analisis dan riset.

Kunjungi HafizeBot untuk mulai memakai bot cryptocurrency kami yang menghasilkan sinyal berbasis kecerdasan buatan, terintegrasi dengan exchange Binance, dan terus dikembangkan dari hari ke hari.

investasi bitcoin apakah perlu investasi crypto berapa modal investasi crypto diversifikasi portofolio crypto rebalancing portofolio investor institusional crypto